Bebas, Tapi Lelah: Catatan Seorang Perempuan Muda
Kebebasan juga tentang hak untuk menentukan batas dan waras. Tentang keberanian kita sebagai perempuan untuk berkata cukup.
Kebebasan juga tentang hak untuk menentukan batas dan waras. Tentang keberanian kita sebagai perempuan untuk berkata cukup.
Menjadi lajang, menjadi orang tua tunggal, atau memilih jalan hidup apa pun yang berbeda dari mayoritas bukanlah sebuah “masalah” yang harus segera diperbaiki oleh komentar orang lewat.
Sampai saat ini perjuangan perempuan Indonesia belum selesai. Narasi seksualitas perempuan belum sepenuhnya lepas dari bayangan lelaki.
Pink tax menunjukkan bagaimana standar terhadap perempuan yang harus rapi, wangi, dan terawat, dibentuk sekaligus dimonetisasi.
Menatap seseorang memang bukanlah suatu tindakan ilegal, namun jika tatapan tersebut dapat membuat seseorang merasa terganggu dan tidak nyaman serta bersifat seksual hal ini dapat menyebabkan pelecehan.
Perempuan tidak hanya dituntut untuk pintar, tetapi juga cantik; tidak hanya dituntut untuk berprestasi, tetapi juga menarik secara fisik. Standar ganda ini memperlihatkan bahwa beauty privilege masih menjadi bagian dari realitas yang dihadapi banyak perempuan.
Aku sangat mencintai kehidupan perempuan, namun mengapa kehidupan perempuan ini disalahpahami dan tidak dihargai? Tidakkah cukup bagi kalian jika perempuan puas dengan kehidupan yang diinginkannya? Dengan ekspresi yang dia tunjukkan mengenai identitasnya? Dengan keinginan-keinginannya?
Menciptakan ruang aman di dalam ruang publik seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai penciptaan rasa aman dari ancaman kekerasan seksual. Ruang publik juga seharusnya bisa memberikan ruang aman bagi mereka yang terstigmatisasi untuk melanjutkan hidupnya tanpa stigma.
Mengapa hubungan ibu dan anak perempuan terasa semakin rumit seiring waktu? Sebuah refleksi tentang motherhood, tekanan sosial, dan luka yang diwariskan ke anak perempuan.
Masak, macak, manak itu kodrat perempuan? Kata siapa? Kenapa?
Dari grup chat FH UI hingga pengalaman di SMA. Lelucon seksis di ruang privat menormalisasi kekerasan seksual. Kenapa institusi membiarkannya?
Mengapa travel, serta without husband, meskipun terdengar sederhana, justru menjadi simbol emansipasi yang dirayakan secara serentak?