Setiap Perempuan, Setiap Perjuangan : Menghidupi Feminisme yang Berdaya
oleh Vella Massardi
Sumber gambar: pinimg.com
Sebagai perempuan, tentu tidak mudah hidup dalam struktur patriarki dimana peran dan norma telah ditentukan oleh mereka yang misoginis dan seksis. Ditambah dengan kondisi negara yang semakin otoriter dan culas, warga negara seakan-akan dijadikan objek tanpa akal. Berbagai usulan kebijakan seperti perluasan peran militer dalam pemerintahan, penghapusan pemilihan langsung untuk kepala daerah, pemangkasan anggaran program untuk makan siang gratis, hingga investasi politik demi kepentingan segelintir elit menunjukkan bahwa pemimpin saat ini tidak mendengarkan gemuruh keresahan rakyatnya.
Bayangkan menjadi perempuan di negeri ini: dengan cepatnya perkembangan informasi, setiap hari kita mendengar bagaimana politik semakin menjauh dari aspirasi masyarakat, berorientasi pada kekuasaan terpusat, dan menguntungkan oligarki serta nepotisme. Di sisi lain, perempuan masih harus berjuang baik di ranah domestik maupun publik: diatur cara berpakaiannya, disalahkan ketika menjadi korban, dituntut menjadi mesin penghasil bayi, dibunuh hanya karena identitasnya sebagai perempuan, dilecehkan oleh atasan, menerima upah tidak setara, dan dipaksa bekerja saat menstruasi. Kami, perempuan, telah diopresi oleh sistem selama ribuan tahun. Jika kamu masih menganggap kesetaraan gender hanya soal "mengangkat galon", silakan berpikir kembali.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengerdilkan gerakan dan kampanye feminis, terutama di media sosial. Namun, tulisan ini dimaksudkan sebagai refleksi bersama agar gerakan dan kampanye tersebut tidak secara tidak sengaja menciptakan ketimpangan baru.
Feminisme yang Keblinger : Dari Cherry-Picking, Standar Ganda hingga Sekedar Citra
Feminisme hadir sebagai gerakan sosial yang memperjuangkan kesetaraan bagi semua gender dengan menghapus norma dan sistem yang menindas. Wacana dan perkembangan feminisme sangat beragam, termasuk bagaimana media sosial turut berkontribusi dalam gerakan dan kampanye nilai-nilai feminis. Namun, tidak sedikit media—baik yang dikelola organisasi maupun influencer—justru menciptakan ketimpangan baru. Individu yang mengaku feminis beberapa justru melakukan cherry-picking, memilih nilai secara selektif untuk mendukung argumentasi mereka, sambil mengabaikan fakta lain yang sama pentingnya.
Misalnya, sebuah kanal media organisasi feminis — terang-terangan menolak LGBTQ+ di lingkungan kampus. Mereka membuat postingan di media sosial dengan substansi diskriminatif dan tuntutan untuk memberi sanksi tegas bagi kelompok ini. Mereka tampaknya lupa (atau memang tidak tahu) bahwa perjuangan kesetaraan gender tidak hanya untuk perempuan, tetapi untuk semua manusia tanpa memandang identitas gender dan orientasi seksual. Atau seorang laki-laki yang keras dan lantang berbicara tentang feminisme, ia mempublikasikan artikel jurnal akademis maupun artikel online mengenai kesetaraan gender— tetapi ternyata pelaku kekerasan seksual di kampusnya. Ada pula aktivis kampanye feminis di media sosial yang memiliki bisnis dengan pekerja perempuan, tetapi tidak memenuhi hak-hak mereka sebagai pekerja dan perempuan.
Selain itu, banyak influencer yang mengaku feminis tetapi justru memperkuat standar patriarki. Contohnya, seorang influencer memberikan tips agar perempuan menjadi "sempurna" dengan memenuhi standar brain, beauty, behaviour (dan kini ditambah brave). Dengan narasi ini, ia justru menormalisasi bahwa perempuan harus pintar, cantik, dan berkelakuan baik untuk diakui sebagai perempuan yang bernilai. Tidak hanya standar kecantikan yang dipaksakan, tetapi juga intelektualitas dan moralitas. Padahal, menjadi feminis berarti membebaskan diri dari standar yang mengekang. Apakah influencer ini lupa bahwa kemampuan intelektual seseorang tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga pada akses pendidikan, sistem sosial, budaya, dan ekonomi yang memadai?
Di sisi lain, banyak kita temukan perempuan yang berhasil menduduki posisi strategis, seperti pemimpin partai politik, tetapi sayangnya tidak memiliki perspektif kesetaraan dan justru mendukung kebijakan yang memperparah ketimpangan. Alih-alih memperjuangkan hak-hak perempuan dan kelompok rentan, mereka malah turut melanggengkan sistem patriarki dengan mendukung aturan yang diskriminatif, mempersempit ruang gerak perempuan, dan memprioritaskan kepentingan elit dibandingkan kebutuhan rakyat. Kita perlu merefleksikan kembali sistem yang membuat ketimpangan semakin menjadi. Patriarki tidak bisa dilepaskan dari kapitalisme dan negara yang menopangnya. Kita butuh lebih dari sekadar representasi perempuan di politik atau perusahaan besar, yang kita perlukan adalah perubahan sistem yang lebih mendasar karena feminisme tidak hanya sekedar label atau pakaian, melainkan perjuangan yang terus berjalan.
Feminisme Bukan Sekadar Label : Membangun Gerakan yang Berdaya
Banyak jalur sosial dan kanal media sosial yang telah digunakan secara salah kaprah dalam menyuarakan feminisme. Mereka lupa bahwa inti dari perjuangan ini adalah menolak sistem patriarki yang menindas sembari memberikan afirmasi dalam kondisi interseksionalisme pada setiap orang — bahwa pengalaman ketidakadilan berbeda bagi setiap orang tergantung pada faktor seperti ras, kelas sosial dan ekonomi, disabilitas, serta orientasi seksual. Media sosial turut menyumbangkan ketimpangan.
"Hmm... sepertinya aku nggak relate deh dengan ini."
Oh, well…Selamat! Itu artinya kamu memiliki privilege—hak istimewa berdasarkan identitas ras, kelas ekonomi, agama, atau faktor lainnya.
Feminisme bukan sekadar label yang bisa dikenakan dan dilepas sesuai kebutuhan. Banyak orang menggunakan label feminis sebagai strategi self-branding tanpa benar-benar berkontribusi pada gerakan itu sendiri. Alih-alih memperjuangkan kesetaraan, mereka justru memperkuat ketimpangan baru—entah dengan menjual narasi yang eksklusif, memilih isu yang menguntungkan citra mereka, atau mengabaikan kelompok yang paling rentan.
Feminisme adalah ideologi dalam gerakan sosial, cara hidup, dan cara pandang. Maka, daripada hanya mengikuti tren tanpa memahami substansinya, kita perlu lebih kritis dalam menyaring informasi dan melihat feminisme sebagai perjuangan yang menyeluruh dan tidak terlalu bergantung pada figur publik. Feminisme bukan soal ikut-ikutan influencer atau tokoh terkenal. Kita perlu memahami isu secara kritis, berbagi pengetahuan, dan bergerak bersama tanpa harus bergantung pada satu orang saja.
Dalam rangka menolak ketergantungan dengan beberapa tokoh maupun elit, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan ruang aman bagi perempuan, kita dapat membangun kolektif yang setara. Perlawanan terhadap patriarki tidak bisa dilakukan dengan memperkuat institusi yang justru bikin ketimpangan makin parah. Sebaliknya, kita bisa membangun komunitas yang berlandaskan solidaritas dan kesetaraan, di mana semua orang punya suara yang sama dan saling memberikan dukungan dalam ruang aman. Dalam konteks gerakan yang lebih jauh— kolektif maupun komunitas ini menjadi basis jaringan perlawanan bersama. Gerakan feminis tidak boleh hanya berpusat pada elit atau tokoh tertentu. Kita perlu membangun jaringan dari bawah, di mana perempuan dan kelompok tertindas lainnya bisa saling menguatkan tanpa tergantung pada lembaga formal.
Namun, dalam upaya memahami beban ganda perempuan, kita tidak dapat langsung memberikan tuntutan bagi perempuan untuk bergabung dalam komunitas besar. Bagaimana bisa kita menuntut ibu rumah tangga dengan memiliki 3 anak dan sedang terjebak dengan siklus kekerasan dalam pernikahan untuk langsung bergabung ke dalam komunitas feminis, sedangkan ia masih berjuang dalam ranah domestiknya. Atau kita juga tidak bisa memaksakan seseorang perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi keluarganya untuk bisa berkolektif membangun jaringan perlawanan, sedangkan ia masih berjuang untuk kesejahteraan ekonomi keluarganya. Beban ganda ini mewarnai perjuangan perempuan yang turut serta dalam gerakan feminis, sehingga penting untuk menghargai pengalaman keseharian perempuan
Feminisme hadir dalam tindakan sehari-hari, dalam cara kita mendukung satu sama lain, dalam keberanian untuk menolak ketidakadilan, dan dalam pilihan-pilihan kecil yang menunjukkan bahwa kita tidak tunduk pada sistem yang menindas. Menghidupi feminisme dalam keseharian juga menjadi hal yang penting. Ini bukan cuma teori, tapi sesuatu yang harus dipraktikkan setiap hari—dengan menolak dominasi dalam hubungan, berbagi sumber daya secara bersama - sama dan sukarela, serta menciptakan ruang yang aman, bebas dari kekerasan dan eksploitasi.
Setiap individu memiliki perjalanan dan fase kontribusi dalam upaya gerakan serta kampanye feminisme masing-masing. Meskipun feminisme percaya bahwa upaya menghapuskan patriarki berakhir pada runtuhnya sistem, namun kita perlu memahami bahwa perempuan memiliki kondisi kerentanan dan beban ganda yang berbeda. Menciptakan ruang aman yang inklusif bagi perempuan, yang berfokus pada kebutuhan dan pengalaman ketubuhan perempuan juga bagian dari gerakan itu sendiri. Selain itu, feminisme harus mampu merangkul berbagai perspektif, termasuk mereka yang berada dalam posisi sosial yang berbeda, agar tidak menciptakan hierarki baru dalam gerakan itu sendiri. Semangat gerakan feminisme dapat diwujudkan dalam lingkup-lingkup kecil dan dijalankan setiap hari, karena bagaimana perempuan bertahan hidup di dunia patriarkis dalam kesehariannya adalah bentuk perjuangan yang nyata.