Cinta, Luka dan Kehilangan
Oleh Evelyn Diandra
“Ayah, sebenarnya apakah cinta itu?”
Aku tumbuh besar di keluarga yang jarang mengundang kedamaian saat sedang berkumpul bersama. Kecilku dihiasi dengan keadaan rumah yang sepinya adalah bentuk dari damai itu sendiri dan ramainya mengisyaratkan adanya perpecahan dalam keluarga. Terkadang, aku merasa bahwa keluargaku akan baik-baik saja saat satu sama lain tidak saling berbagi atap yang sama. Bagaimana aku bisa mencari jawaban tentang cinta dari keluarga yang seperti itu?
Ayah, orangtua yang disebut-sebut menjadi cinta pertama seorang anak perempuan adalah sosok yang hanya terlihat saat aku tidak sengaja terbangun sebelum matahari kembali menampakkan wajahnya. Aku seperti tidak ditemani oleh sosok ayah selama prosesku beranjak dewasa. Aku tumbuh menjadi seseorang yang mencari sosok ‘ayah’ yang bisa mengisi kekosongan dalam hatiku sampai pada saatnya aku kehilangan diriku sendiri.
Aku pernah memiliki seorang kekasih, usianya lebih tua daripadaku. Dia tidak pernah memukulku atau menamparku. Aku mengagumi sosoknya yang dewasa yang entah kenapa membuat segala perkataannya sebagai sebuah peraturan dan petunjuk dalam mengambil keputusan. Aku mengaguminya dan ingin selalu berada di dekatnya. Tak jarang aku bersikeras untuk melibatkannya dalam seluruh peristiwa di hidupku. Mengenalkannya pada teman-temanku dan menghabiskan seluruh waktu luang bersamanya. Aku sungguh sangat menyayanginya dengan segenap hatiku. Aku seperti menjelma sebagai anak kecil yang manja setiap berada di dekatnya. Aku yakin bahwa dia akan selalu ada dalam setiap pahit manis di hidupku kedepannya. Dia akan memelukku dalam penghiburan dan membawakan senyum kebanggaan setiap kali aku mencapai sebuah keberhasilan. Dia adalah sosok yang pertama kali menjawab pertanyaan soal cinta dalam hidupku.
Bagaikan petir di siang bolong, hal-hal yang tidak pernah kubayangkan perlahan terjadi. Saat sedang bersama, aku hanya diijinkan untuk melihat sosoknya dari samping yang tengah fokus ke dalam dunianya sendiri, yang entah kenapa aku tidak diberi ijin untuk sekadar mengintipnya. Aku tidak lagi melibatkannya dalam segala urusan hidupku. Mungkin kata yang lebih pas untuk menggambarkannya adalah “aku tidak lagi bisa”. Entah sejak kapan, aku benar-benar bersandar dan percaya padanya melebihi diriku sendiri. Dulu kekasihku itu menyukai saat-saat dimana aku menceritakan dan mengajaknya kemana-mana. Sekarang, semua hal tentangku terasa begitu memuakkan dan mengganggunya. Saat itu aku berkata kepada diriku sendiri, “tidak apa, dia hanya sedang lelah dan jenuh sebentar, dia akan kembali lagi seperti biasanya saat semuanya mereda. Dia akan memperlakukanku dengan baik lagi, seperti dulu.”
Aku akan selalu memberinya dukunganku. Begitulah komitmenku yang kurasa benar dihubungan ini. Bukankah saat salah satu pasangan sedang kesulitan kita harus senantiasa bisa memaklumi dan selalu memberinya dukungan? Lihatlah aku, aku tetap mendukungnya. Bahkan saat dimana dia perlahan mencekikku dan membunuhku perlahan, aku tidak pernah berhenti mendukungnya.
Aku mendukungnya, aku selalu diam saat dia tidak lagi menganggapku ada disampingnya saat kami menghabiskan waktu bersama. Aku mendukungnya, saat dia mengacuhkanku di depan teman-temannya setelah aku memberanikan diriku pergi ke kelasnya yang saat itu terlihat menakutkan bagiku hanya untuk mencari tau kabarnya. Aku mendukungnya, saat dia menyalahkan segala hal padaku hanya karena dia sedang lelah dan banyak pikiran. Aku mendukungnya, sampai semua kata-kata kasar yang dia keluarkan untukku aku terima sebagai wujud rasa sayangnya yang tidak akan meninggalkanku. Aku mendukungnya, sampai suatu ketika dia tidak sengaja memberiku sebuah tamparan sebagai balasan dari kehadiranku saat dia sedang marah pada dirinya sendiri. Aku tidak pernah berhenti mendukungnya. Dia meminta maaf padaku, dan aku selalu memaafkannya, bahkan saat dia tidak meminta maaf sekalipun aku sudah memaafkannya. Aku tau dia tidak bermaksud menyakitiku. Kukatakan padanya bahwa aku akan selalu mendukungnya. Aku selalu percaya dia akan kembali seperti dulu lagi saat dia sudah selesai dengan hal-hal yang menjadi dunianya saat ini. Aku tidak berhenti mendukungnya, bahkan sampai air mata menghiasi wajahku disetiap malamnya. “Dia pasti akan berubah”, begitulah aku meyakinkan diriku sendiri setiap harinya sebelum kenyataan kembali menertawakanku.
“Apakah mencintai seseorang itu memang terasa begitu menyakitkan dan menyedihkan seperti ini, Ayah?”
Dalam memilih pasangan, seseorang mengandalkan orang terdekatnya sebagai role model. Jika role model tidak cukup kuat untuk memberikan contoh yang baik dalam hubungan, maka sangat mungkin bahwa orang tersebut akan mengalami masalah dalam hubungan tersebut. Banyak orang berpendapat bahwa cinta pertama bagi seorang perempuan adalah ayahnya. Oleh karena itu, peran ayah dalam pengasuhan sangat penting di setiap tahap perkembangan anak, untuk mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang yang sejati.
Indonesia sering disebut sebagai ‘negara tanpa ayah’ atau fatherless country. Peran ayah dalam pengasuhan anak di Indonesia sering dianggap kurang penting. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mendefinisikan fatherless sebagai ketiadaan peran ayah. Ini berarti bahwa meskipun ayah mungkin hadir secara fisik, ia tidak berpartisipasi dalam perkembangan anak.
Salah satu penyebab kondisi ini adalah budaya patriarki yang dominan, di mana ayah berperan sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah, sementara ibu fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak. Padahal, kehadiran sosok ayah sangat krusial untuk perkembangan fisik dan emosional anak. Patriarki sering kali menempatkan ayah sebagai satu-satunya pencari nafkah dan kepala keluarga, membuatnya sulit bagi anak-anak untuk memahami konsep cinta dan keintiman yang sehat. Tanpa kehangatan dari ayah, anak-anak mungkin merasa tidak cukup baik atau tidak layak dicintai. Dalam upaya untuk mengisi kekosongan tersebut, mereka mungkin mencari cinta dan penerimaan di tempat lain. Sayangnya, pencarian ini sering kali membawa mereka ke hubungan yang tidak sehat, di mana mereka dapat menjadi korban perlakuan buruk.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan patriarki dan tidak memiliki pengalaman positif tentang bagaimana hubungan yang sehat seharusnya berfungsi, sering kali tidak mampu mengenali tanda-tanda toxic relationship. Mereka mungkin menganggap bahwa perilaku merendahkan atau mengontrol adalah hal yang normal dalam cinta. Tanpa pengetahuan yang cukup tentang ciri-ciri hubungan yang toxic, mereka cenderung bertahan dalam situasi yang merugikan, berpikir bahwa cinta harus diperjuangkan meskipun itu menyakiti mereka. Sebagai hasilnya, anak-anak yang tumbuh dalam kondisi fatherless berisiko tinggi terjebak dalam hubungan yang menyakiti mereka, mencari pengakuan dan kasih sayang di tempat yang salah.
Penting bagi masyarakat untuk menyadari dampak dari ketiadaan sosok ayah dan berupaya mengatasi masalah fatherless dengan memberikan dukungan yang tepat. Hal ini termasuk pendidikan tentang peran ayah dalam pengasuhan dan pengembangan anak, serta pentingnya hubungan yang sehat. Dengan menciptakan program-program yang mendorong keterlibatan ayah, memberikan sumber daya bagi keluarga, dan meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif dari ketiadaan sosok ayah, kita dapat membantu generasi mendatang untuk tidak terjebak dalam pola yang merugikan. Fokus pada pemulihan hubungan ayah-anak dan penguatan nilai-nilai keluarga akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan positif bagi anak-anak.