Skip to main content

Kosakata “Janda” yang Menghakimi Perempuan

Saya tidak ingat persis bagaimana saya mendengar kata itu. Yang saya ingat adalah suasana dapur, suara piring, dan tiba-tiba percakapan dewasa mengecil menjadi bisikan. Saya mendengar kata itu saat umur 10 tahun. Saya berpura-pura bermain dengan teman di taman, tapi telinga saya mendengar tajam. Kata itu diucapkan seperti sesuatu yang sangat tabu, dengan nada seperti virus yang akan menular cepat. Saat itu saya belum mengetahui makna sebenarnya dari kata “janda” di masyarakat ini, tapi saya paham bahwa kata itu adalah sesuatu yang akan dihindari oleh para perempuan dewasa. 

Ibu dan Anak (1992) Karya Basuki Abdullah, Cinta yang Tak Pernah Selesai Diulas

Sejak kejadian itu, saya tidak lagi mendengar “janda” hanya sebagai status istri yang ditinggalkan. Saya mendengarnya sebagai stereotipe buruk sesuatu yang melekat pada perempuan dan patut dihindari. Dari situ, bayangan tentang masa depan mulai terbentuk dalam benak saya. Saat ini saya sudah berumur 22 tahun, dan pertanyaan tentang masa depan semakin terasa nyata: ada jalur aman sebagai istri, dan ada jalur negatif berlabel janda yang penuh rasa iba dan gunjingan. Saya mulai sadar bahwa bahasa ternyata bisa menjadi alat patriarki. Seperti yang diungkapkan dalam “Mematahkan Stigma Kata Janda”, alasan besar di balik stigma ini diperkirakan berasal dari budaya patriarki dan kecenderungan masyarakat yang misoginis kebencian terhadap perempuan yang menempatkan pria di posisi lebih tinggi, dan kerap kali menjatuhkan kesalahan pada perempuan. 

Akan tetapi kosakata moral ini bekerja melalui stigma dan stereotipe janda dianggap tidak bermoral, sumber fitnah, ancaman bagi perempuan menikah, bahkan dianggap ancaman bagi perempuan yang sudah menikah seolah-olah ia akan “merebut suami orang”. Stereotipe ini hidup subur di Indonesia melalui gosip mulut ke mulut, tanpa pernah benar-benar dipertanyakan. Jarang sekali masyarakat melihat janda dari sisi yang positif sebagai perempuan yang mandiri, yang bertahan, yang melanjutkan hidupnya sendiri. Seperti yang dijelaskan dalam penelitian “Presentasi Diri Perempuan Muda Berstatus Janda Di Kabupaten Kuningan”, perempuan yang menjadi janda menghadapi dinamika kehidupan yang rumit. Kondisi mereka yang berbeda dengan orang biasa membuat mereka harus menyesuaikan diri di depan umum. Perempuan yang menjadi janda melakukan berbagai cara untuk menjalankan perannya dengan tujuan menghindari stigma, memperbaiki posisi mereka di masyarakat, dan memulihkan reputasi mereka. 

Saya mengamati di pedesaan bahwa stigma negatif terhadap seorang janda muda atau yang berusia lebih lanjut mulai menyebabkan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal mereka menjauhi mereka. Saat dia berjalan melewati sekelompok ibu-ibu, suara mereka secara otomatis menjadi lebih pelan. Meskipun sebenarnya, yang dia lakukan setiap hari hanyalah bekerja, merawat anak, dan kadang-kadang menyapa tetangga. Namun, sebagai seorang janda terutama yang masih muda dan menjaga penampilannya membuatnya dianggap “berbahaya”.

Saya pernah merasakan sendiri bagaimana stigma mulai menghampiri saya, walau saya masih single. Saya masih jelas ingat satu momen ketika saya betul-betul merasakan tekanan yang luar biasa. Saat itu saya kembali ke desa, dan tiba-tiba seorang tetangga yang sudah lama tidak saya jumpai menyambut kedatangan saya dengan senyuman hangatnya. Setelah berbicara-bicara, pertanyaan pertama yang diajukan: “Eh, kamu udah punya pacar belum, dek?” “Jangan terlalu lama carinya, nanti susah loh”. Saya hanya tersenyum, tapi sebenarnya dalam hati saya bertanya, “Susahnya  apa sih?” Sulit menemukan suami? Sulit menikah? Atau sulit dianggap normal? Saya kembali ke kamar dan menyendiri sejenak. Saya membayangkan diri saya lima tahun ke depan. Jika saya masih lajang, apakah saya akan menjadi topik gosip selanjutnya? Saya tidak takut sendiri, tetapi saya merasa takut akan dikecam ketika berada sendirian. 

Saya melihat bagaimana satu kata bisa membuat seorang perempuan yang dihormati di komunitasnya menjadi orang asing di tempat tinggalnya sendiri. Saya juga menyaksikan ini pada tante saya, seorang janda yang ditinggalkan suaminya, namun memilih berdiri dengan kakinya sendiri. Dari hasil berjualan di toko kelontong, ia menghidupi dirinya dan ketiga anaknya tanpa sekalipun meminta bantuan keluarga. Ia menjalankan peran ayah dan ibu dalam waktu yang bersamaan, menjadi kepala keluarga yang tangguh di tengah lingkungan yang justru sibuk membisikkan hal-hal yang tidak semestinya. Namun, ketangguhannya itu justru membuat masyarakat sekitar gelisah  seolah perempuan tidak boleh terlalu kuat sendirian. Maka, stigma pun mulai berbisik. Saya bertanya pada diri sendiri tetangga-tetangga itu tidak pernah bertanya apakah ia cukup makan hari ini. Yang mereka tanyakan hanya “kapan mau nikah lagi?”, seolah jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah ia layak dihormati. Padahal pernikahan bisa menjadi awal kebahagiaan, tapi juga bisa menjadi awal kehancuran dan masyarakat kita masih terlalu picik untuk memahami bahwa ketidakhadiran pernikahan bukanlah kegagalan.

Melihat tante saya, saya mulai paham bahwa saya pun sedang berjalan di koridor yang sama. Sebagai perempuan yang beranjak dewasa, saya mulai memahami bahwa kebahagiaan perempuan tidak terletak pada status pernikahannya. Ia terletak pada bagaimana sebuah hubungan berjalan dengan seimbang dan saling menghormati. Yang paling menyakitkan bukan hanya stigmanya, tapi komentar-komentar yang lahir dari stigma itu “Oh, janda ya, berarti sudah punya pengalaman di kasur dong”, “Sekarang sudah bebas ya, kan sudah jadi janda.” Komentar seperti itu bukan sekadar tidak sopan, ia adalah pelecehan verbal yang nyata. Saya tidak butuh orang lain mengajarkan bahwa janda itu hina. Saya butuh mereka diam, atau setidaknya bertanya: “Apa yang bisa saya bantu?” Menjadi janda bukan alasan untuk merendahkan seseorang. Setiap perempuan berhak mendapat penghargaan, dukungan, dan kesempatan yang sama tanpa memandang status pernikahannya  bukan karena saya membaca itu di buku, tapi karena saya melihat sendiri bagaimana tante saya bertahan tanpa penghargaan sedikit pun dari lingkungannya. Saya juga bertanya-tanya apakah stigma ini sama kuatnya di kota besar? Dari yang saya lihat, di kota orang lebih sibuk dengan urusan masing-masing. Tetangga tidak saling kenal, gosip tidak secepat di desa. Tapi, saya tidak yakin itu berarti stigma hilang. Mungkin bentuknya berbeda, lebih halus, lebih tersembunyi. Bukan bisikan di dapur, tapi komentar di kolom komentar. Bukan tatapan iba saat bertemu di jalan, tapi kalimat “Cari yang baik-baik, ya, jangan sampai salah lagi” yang dilontarkan sambil tersenyum di acara kumpul keluarga. Di mana pun, stigma tetap ada. Hanya caranya yang berubah dan itu yang paling menyedihkan perempuan tetap dihakimi, di mana pun ia berada, apa pun statusnya. 

Sebagai perempuan muda, saya tidak bisa menutup mata bahwa ketakutan akan status janda ikut membentuk cara saya memandang pernikahan bukan sebagai pilihan yang bebas, melainkan sebagai sesuatu yang harus dijaga mati-matian demi menghindari cap sosial yang menyertainya. Padahal, seperti yang diungkapkan dalam unggahan Instagram Poppy Diharjo, pernikahan tidak pernah menjanjikan keabadian. Suami bisa menua dan meninggal. Kita pun sama bisa menua dan meninggal. Maka, jika seseorang menikah, ia sesungguhnya tidak bisa sepenuhnya menghindari kemungkinan menjadi janda. Tidak ada solusi lain dari kenyataan itu. 

Maka dari itu, ketakutan saya sebagai perempuan yang belum menikah bukanlah ketakutan akan pernikahan itu sendiri, melainkan ketakutan akan apa yang terjadi jika pernikahan itu berakhir.  Saya takut bukan pada perceraian, tapi pada gunjingan yang menyertainya. Saya takut bukan pada kehilangan suami, tapi pada hilangnya rasa hormat dari lingkungan sekitar dan  yang paling mengkhawatirkan ketakutan ini diam-diam mengubah cara saya memandang pernikahan dari sesuatu yang sakral menjadi sesuatu yang harus bertahan dalam keadaan apa pun, demi menghindari label janda. Padahal, mungkin yang perlu diubah bukanlah nasib perempuan itu, melainkan cara kita menyebutnya. Kata “janda” selama ini terlanjur melekat dengan stigma negatif, padahal yang sebenarnya mereka jalani adalah peran sebagai perempuan kepala keluarga sosok yang berdiri sendiri, menanggung tanggung jawab yang sama besarnya, tanpa perlu dikasihani.Jika kelak saya harus menjadi janda, saya berharap saya tidak akan kehilangan martabat saya dan yang lebih penting, saya berharap masyarakat tidak akan merampasnya dari saya. Karena saya adalah perempuan yang berhak diberdayakan, bukan direndahkan.