Skip to main content

Kita Pikir Kita Feminis

Ketika pertama kali tau apa itu feminis, aku langsung berpikir kalau aku adalah salah satunya. Karena tanpa dijelaskan pun, Mama dan Andung, aku yakin, adalah dua di antaranya. Aku tumbuh dikelilingi perempuan pejuang, yang arti perjuangannya bisa jadi adalah memprioritaskan sesuatu di luar mimpi pribadi. Mimpi-mimpi yang belum tunai selalu memanggil, terus hidup di manapun darah mereka mengalir; juga dalam urat nadiku. 

Sementara di ujian-ujian aku selalu mengisi titik-titik setelah pertanyaan ‘siapa kepala keluarga?’ dengan ‘Ayah’, sosok laki-laki di keluarga, aku selalu merasa ada yang ganjil dari jawaban itu. Sebab, kalau boleh menjawab dengan pengalaman sendiri, jawabannya tentu Mama. Hanya saja aku tahu kalau jawaban itu tidak akan mendapat nilai benar. Padahal, di rumahku keputusan-keputusan penting diambil menunggu Mama pulang, dan bukan sebaliknya.

Bagi Mama, Andung adalah idolanya: orang tua, ibu tunggal yang membesarkan tiga anak. Semua harus sarjana. Cara Andung digambarkan sesuai dengan arketipe perempuan-perempuan emansipatif lainnya: keras hati; tidak berhalus-halus saat bicara; kalau bekerja keras. Perempuan-perempuan yang sering dipuji sambil juga disederhanakan sebagai ibu-ibu galak; karena ibu ideal bagi negara adalah Ibu-kita-Kartini, bukan? 

Di antara sekian banyak hal yang bisa ditawar dalam hidup, pendidikan tidak pernah termasuk salah satunya. Liburan dan baju Lebaran bisa ditunda, tapi soal belajar tidak pernah masuk daftar penghematan. Meski Mama dan Andung tidak pernah mengutip apapun tentang tentang mobilitas sosial, mereka tahu kalau sekolah membuka kemungkinan. Mereka merasakan bagaimana ijazah memberi mereka pekerjaan, gaji tetap, dan hidup yang sedikit lebih lapang daripada generasi sebelumnya. Bukan cara untuk cepat kaya, tapi pendidikan bisa menggeser jalan hidup beberapa sentimeter.

Maka ketika giliranku tiba, sejauh apa pun sekolah membawaku pergi, tidak pernah ada pertanyaan “Buat apa?“. Pun mereka tidak pernah lagi mengikuti apa-apa yang ku pelajari – seperti ketika SD dulu – mereka tidak butuh penjelasan apapun untuk percaya bahwa sekolah itu penting. Bagi mereka pertanyaannya hanya, “Berapa?” yang disambung, “Pergilah selagi bisa.”

Selalu sama, sampai aku berangkat S3. 

***

Sekalipun Andung membesarkan tiga anak seorang diri dan memastikan semuanya punya pendidikan sama tinggi, tapi baginya tetap, ketika kelapa harus dikukur, nama yang dipanggil tetap si Joanna dan si Juni, bukan si John. Dan yang jadi urusan si John adalah mengkilapkan lantai tegel dengan ampas kelapa sisa parutan santan. Tidak ada masalah sebetulnya, tapi pendidikan mengantarkan kita ke pertanyaan: “kenapa mengukur kelapa diasosiasikan dengan perempuan, sementara mengkilapkan tegel diasosiasikan dengan laki-laki, ya?” Tentu Andung tidak sedang menciptakan pembagian ini, dan ia hanya menjalankan sebagaimana ia pernah diajarkan sebelumnya.

Pembagian itu tidak berhenti pada siapa yang mengukur kelapa atau siapa yang mengkilapkan tegel. Ia juga mengatur siapa yang dianggap pantas memegang peran tertentu dalam keluarga. Sebab, Mama tetap tidak pernah merasa –– atau lebih tepatnya tidak diizinkan merasa –– bahwa dirinya lah kepala keluarga; sekalipun ia bekerja, mengatur rumah tangga, sekaligus membuat keputusan. Karena ini, seringkali ia jadi curhat. Bukan karena ia tidak mampu, tapi lebih seperti bingung karena –– dalam bahasa PNS-nya –– salah tupoksi. Istilah yang biasa ia pakai untuk menjelaskan pekerjaan kantor yang bukan bagiannya. Ia meminjam kosakata itu untuk menjelaskan persoalan hidupnya yang seolah adalah pembagian kerja yang kurang jelas, padahal di sana ada pembagian kuasa yang timpang. Bertahun-tahun kemudian baru aku menemukan istilah yang rasanya berjarak, padahal yang dijelaskan istilah itu adalah Mama: ‘feminisasi tanggung jawab tanpa feminisasi otoritas’. Sesuatu yang kadang ingin kukatakan ke Mama, tapi, besar kemungkinan ia akan mengira kami sedang membahas rapat dinas, kemudian ia sambung dengan pertanyaan, “Jadi, sebenarnya aku ini salah nggak?”

***

Aku tumbuh bersama satu wajah feminisme yang tidak pernah menyebut dirinya sendiri, dan dalam bentuk yang penuh kontradiksi pula. Mama dan Andung belum pernah disebut atau mendaku feminis. Juga mungkin mereka sendiri ragu kalau ditanya: “Andung feminis, bukan Ndung?”; “Mama Feminis bukan, Ma?” 

Kemungkinan besar mereka akan kompak balik bertanya dalam nada ngegas orang Sumatra: “Apa pula itu?!”

Pendidikan yang tak lagi mereka bisa ikuti itulah yang mengajarkanku mempertanyakan dunia yang mereka hidupi. Dari sekolah dan buku-buku yang selalu mereka usahakan, aku belajar memahami mengapa Andung memanggil Joanna dan Juni untuk mengukur kelapa, sementara John untuk mengkilapkan tegel; juga mengapa bukan Mama saja yang mengepalai keluarga. Semua pertanyaan itu hanya mungkin ada karena mereka lebih dulu memastikan kesempatan belajarku selalu ada.

Dan, begitulah cara nilai diwariskan perempuan dalam keluargaku. Yaitu, dengan percaya bahwa telapak tangan perempuan yang kasar adalah tanda kerja keras; seperti tanganku dan mereka (yang sebetulnya genetik saja, sih). Kami tidak pernah mencari bukti yang sama pada tangan ayah dan paman-paman kami. 

Dan aku beruntung, sebab aku bisa menunaikan mimpi mereka. Sekolah sampai batasnya, bermodal angin buritan yang senantiasa mereka tiupkan.

Walaupun mungkin belum lengkap karena bukan kuliah dokter.