Gandeng Gendong : Saling Merangkul Demi Kebebasan Berekspresi
Bergandheng untuk menciptakan ruang aman bagi para waria dalam mengekspresikan religiusitas
oleh Nurul Istiqomah, Deon Vito Karta Wijaya, Nanda Kesya Pramesty, dan Nahda Shafirah Rahayu
Narasumber dari sisi kanan: Ibu Nur, Ibu Shinta, dan Mbak Olla dan para penulis pada tahun 2022.
Selasa, 6 Agustus 2022: Kami berempat menyusuri jalan dengan sedikit tergopoh-gopoh karena cukup telat. Pada saat itu, Ibu Nur (60 tahun) sedikit mengungkapkan kekesalan dengan sopan karena keterlambatan kami, dan itu wajar. Namun, kami tetap disambut dengan ramah, ditandai dengan sajian makanan ringan.
Pondok Pesantren Waria Al-Fattah terletak di gang sempit padat penduduk, daerah Banguntapan. Pondok Pesantren ini berdiri pada tahun 2008 atas saran Kyai Hamroli, di tengah kajian pengajian bulanan pada tahun 2006. Namun, dibutuhkan dua tahun untuk merealisasikan bentuk pesantren. Sebelumnya, para teman-teman waria memang sudah berjejaring, dan Pondok Pesantren Al-Fattah lah yang menjadi salah satu organisasi yang didirikan pada waria dengan fokus pada pengembangan religiusitas dan kesenian. Pondok ini pun juga menaungi para waria yang sebelumnya kesulitan beribadah karena stigma dan diskriminasi terhadap mereka.
Bunga rampai perjalanan keorganisasian dan semangat para teman-teman waria untuk terus berjejaring, mengarahkan kepada perkembangan kesejahteraan pada beberapa aspek krusial kehidupan waria, khususnya di Yogyakarta. Perjalanan panjang sampai berdirinya Pondok Pesantren Waria Al-Fattah dimulai pada tahun 1982 ketika para waria mulai keluar ke ruang-ruang publik, tepatnya berkumpul atau nongkrong. Lalu, karena tidak ada kegiatan apa pun, akhirnya mereka membentuk organisasi bernama Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO). Fokus kegiatan adalah pada kesenian (menari) dan olahraga. Dinas Sosial kemudian meminjamkan tempat untuk melakukan kegiatan. Pada tahun 1984, IWAYO mulai mendapatkan bantuan dari Dinas Sosial per kelompok yang berisi lima orang untuk membuka salon. Setelah itu, fokus organisasi selanjutnya mencakup pada pengembangan sektor ekonomi, kesenian, dan olahraga para waria. Pada tahun 1989, fokus meluas ke arah isu kesehatan reproduksi yang mencakup pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti Gonorrhea dan Sifilis, namun belum mencakup HIV. Baru pada tahun 1990 pemeriksaan mencakup HIV. Semua pemeriksaan tersebut dilakukan atas kerjasama dengan Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), dimana anggota dari IWAYO juga diberikan tempat dalam kesekretariatan PKBI. IWAYO selanjutnya dibimbing oleh PKBI dalam pengorganisasian komunitasnya.
Namun, pada 1992 IWAYO mati suri dikarenakan konflik internal, dan setelahnya pengorganisasiannya diambil alih oleh PKBI secara langsung dan dipecah ke dalam kelompok-kelompok kecil per wilayah Yogyakarta. PKBI pada masa itu mengambil andil yang serius dalam memperhatikan kesehatan para waria, hingga menurunkan dua pekerja lapangan sebagai pendamping pada masing-masing wilayah, dan hingga akhirnya PKBI mendorong untuk IWAYO berdiri kembali.
Pada tahun 2000, Sanggar Seni Budaya Waria didirikan. Lalu, pada tahun 2006 didirikanlah Keluarga Waria Yogyakarta yang berfokus terhadap isu HIV/AIDS. Ini kemudian diikuti dengan pendirian Pondok Pesantren Waria pada tahun 2008. Setelahnya, pada 2010, IWAYO dibangkitkan kembali. Pembeda antara fokus IWAYO dan KEBAYA, yang juga menyediakan tempat bagi waria di Yogyakarta, adalah fokus IWAYO kepada advokasi dan pendampingan organisasi yang mengarah pada isu kesehatan reproduksi untuk para waria. Sedangkan, KEBAYA memiliki fokus utama terhadap isu HIV.
Pondok Pesantren Al-Fattah adalah sebuah lilin dalam gelap bagi para waria muslim yang ingin beribadah dan belajar agama di ruang publik. Sebelumnya, mereka cenderung melakukan ibadah sendiri karena banyaknya diskriminasi. Pondok Pesantren Waria ini bukanlah fatamorgana di tengah gurun pasir, namun merupakan jawaban untuk teman-teman waria yang ingin mendekatkan diri secara lebih khusyu’ kepada Tuhan. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan dari salah satu narasumber, yaitu Mbak Nur (60 tahun). Mbak Nur adalah salah satu santri di Pondok Pesantren, dan merupakan waria. “Aku cuma cerita (kepada rekan kerjanya), saya tinggal di pondok, dan di pondok ada kegiatan seperti ini, akhirnya mereka tertarik (untuk bergabung dengan Pondok Pesantren Al Fattah),” ujar Mbak Nur. Kini, Santri di Pondok Pesantren Al Fattah sudah mencapai 65 orang pada saat liputan diambil pada tahun 2022.
Namun, perjalanan panjang dalam mengejar hak untuk beribadah tidak semulus itu. Isu LGBTQ+ merebak pasca kasus pencabulan oleh tersangka Saipul Jamil di tahun 2016. Kasus ini menndorong salah satu organisasi masyarakat yang menamai diri mereka sebagai Front Jihad Islam (FJI) menggerebek Pondok Pesantren Al Fattah dan melakukan pelarangan dalam berkegiatan. Tidak hanya itu, mereka mencoba untuk memprovokasi warga, bahkan mengatasnamakan warga sekitar dengan mengatakan bahwa pondok pesantren ingin membuat fiqh sendiri, berkaraoke, pesta seks, hingga minum minuman beralkohol. Semuanya telah terkonfirmasi sebagai rekaan semata, agar Pondok Pesantren dibubarkan. Hal ini berlanjut pada permohonan advokasi kepada beberapa lembaga yang terkait dengan HAM, serta penjagaan polisi secara ketat.
Isu yang juga cukup membuat para santri sempat dijauhi oleh warga adalah isu yang mengatakan bahwa Pondok Pesantren Al Fattah adalah lokasi rapat para LGBT, yang membuat warga takut mendekat dan dianggap mendukung. Selain itu, mereka juga terpengaruh provokasi mengenai azab dan laknat Tuhan bagi para pendukungnya. Semua ini menyebabkan merebaknya teror akan penggerebekan kos waria yang membuat para waria takut, bahkan untuk menunjukkan identitasnya.
“Ada yang pulang kampung, potong rambut, yang biasa ngamen jadi tidak ngamen” ungkap para narasumber, secara bersautan. “Itu lah, jika ada isu mengenai LGBT, yang paling terdampak adalah waria, karena mereka yang paling terlihat. Orang ingin mencari gay, itu susah sekali. Maka dari itu, jika ada pemberitaan mengenai pesta gay, yang deg-degan itu saya, karena saya sebagai ketua Pondok Pesantren waria takut ini isunya bakal jadi, dan akan terjadi seperti dahulu lagi,” tambah Ibu Shinta, ketua Pondok Pesantren Waria Al-Fattah. Tahun 2016 merupakan masa traumatis bagi mereka. Pengajaran yang mereka dapat adalah jika ada isu mengenai LGBT yang merebak, maka yang dapat dilakukan hanyalah mendiamkan dan tidak menanggapi sama sekali agar tidak menjadi bumerang bagi mereka.
Bercanda sembari bernostalgia. Selain membicarakan mengenai pergolakan masa pubertas yang manis dan pahit, mereka terkesan sangat kuat sekali. Kami tidak sempat membicarakan mengenai perjalanan religiusitas para narasumber yang sedikit banyak dipengaruhi oleh Pondok Pesantren Al Fattah. Namun, secara garis besar, Pondok Pesantren ini sangat lah mengayomi para teman-teman waria dan bagaimana mereka mencari tempat perlindungan di tengah perbedaan, diskriminasi, dan prasangka yang mereka dapatkan.
Salah satu dari kami bertanya mengenai profesi salah satu teman waria, Mbak Arum. Cantik seperti namanya, ia mengatakan dengan sangat semangat mengenai perjalanan usahanya yang juga melibatkan jaringan waria. Saling membantu, itu mungkin prinsip mereka. Walaupun sempat bercerita bahwa ada beberapa waria yang mengeklusi diri mereka dan mengagungkan 'kenormalan', mereka menjalani hidup dengan perasaan dan cinta, penuh keinginan aktualisasi diri. Kami sangat bersyukur bisa bertemu dan belajar mengenai bagaimana cinta itu dibangun dibalik keterbatasan dan ketertindasan. Bergandengan tangan dan saling memeluk. Mungkin kami dapat mengulangi slogan yang kami dapatkan dari teman-teman waria, yaitu gandeng gendong, yang kami artikan sebagai saling merangkul demi kebebasan berekspresi.