“Cewek Kok Berantakan”
Semasa kecil, ketika sedang terbaring di kamar selepas pulang sekolah, Ibu masuk dan menghembuskan napas sambil mengeluarkan kalimat andalannya “Cewek kok berantakan” dilanjutkan dengan berbagai omelannya. Terkadang variasinya berbeda, Ayah membangunkan di minggu pagi dengan ucapan, “Cewek kok bangun siang.” Entah mengapa kalimat tersebut mengganggu, bukan karena omelannya, tetapi karena kata “cewek” yang melekat di sana memunculkan pertanyaan dalam benakku, “Memangnya kenapa kalau cewek? Kenapa cewek mendapat tuntutan dan ekspektasi untuk lebih rapi dan bangun pagi?” Aku tidak berani bertanya balik saat itu, tapi rasa penasaran itu terus tersimpan di kepala.

Kalimat-kalimat yang terdiri dari empat kata tersebut terdengar sederhana tetapi mampu memunculkan kebingungan bagiku yang berumur 12 tahun saat itu dan kebingungan tersebut melekat hingga sekarang.
Ternyata ungkapan tersebut tidak hanya terjadi padaku, melainkan pada berbagai perempuan di rumah-rumah mereka. Mirisnya, ungkapan tersebut sudah menjadi kalimat yang normal dan tidak ada yang mempertanyakannya. Claire Cain Miller dalam tulisannya di The New York Times menulis bahwa pekerjaan rumah tangga masih dianggap pekerjaan perempuan, dan perempuan dinilai negatif ketika rumah mereka berantakan atau pekerjaan rumah tidak terselesaikan. Rupanya, apa yang selama ini kuanggap sebagai omelan pribadi hanyalah satu dari sekian banyak cara norma tersebut diwariskan dari satu rumah ke rumah lainnya.
Standar ganda ini bahkan merembet ke ruang kerja. Studi yang dipublikasikan dalam artikel jurnal Sarah Thébaud dkk. di Social Psychology Quarterly menemukan bahwa gender penghuni ruangan secara signifikan mempengaruhi penilaian moral dan konsekuensi sosial yang diterima, terlepas dari kondisi ruangan itu sendiri. Dengan kata lain, kamar berantakan yang sama akan dinilai berbeda tergantung siapa yang menempatinya.
Bukankah bangun pagi dan kerapian menjadi aspek standar yang seharusnya berlaku universal, tidak melekat pada gender atau identitas tertentu. Perempuan dan laki-laki mungkin berbeda secara biologis dalam hal yang ilmiah seperti hormon, genetik, dan reproduksi. Tetapi kerapian dan kebersihan bukan bagian dari perbedaan biologis tersebut. Jika perempuan dan laki-laki sama-sama rapi dengan standar yang sama, bukankah itu hal yang baik, lalu kenapa standar tersebut terasa jauh lebih berat pada satu gender?
Empat kata andalan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan hasil turunan dari sejarah budaya yang panjang bahwa urusan domestik seperti memasak dan beres-beres dilekatkan sebagai tugas perempuan dan area domestik dinilai sebagai cerminan langsung dari harga diri serta moralitas seorang perempuan. Standar ini kemudian diwariskan turun-temurun, dari ibu ke anak perempuan, hingga terasa begitu wajar untuk dipertanyakan.
Hal tersebut dibentuk bahkan dari hal sekecil mainan. Berdasarkan penelitian tentang gender-typed toys yang dipublikasikan Blakemore dan Centers dalam jurnal Sex Roles, mainan yang diidentifikasi sebagai mainan perempuan secara dominan dikaitkan dengan kecantikan, pengasuhan, dan keterampilan domestik, sementara mainan laki-laki dikaitkan dengan eksplorasi, kompetisi, dan konstruksi. Bahkan sejak bermain pun, fragmentasi tersebut sudah berjalan secara tidak disadari. Pandangan yang terbentuk sejak kecil itu kemudian tumbuh menjadi tuntutan yang lebih besar mulai dari mengurus diri, mengurus rumah, hingga tuntutan selalu rapi. Seolah-olah ketika perempuan tidak rapi adalah hal yang lebih tidak etis, sementara ketika laki-laki berantakan akan dimaklumi dan ketika kerapian akan diapresiasi karena menjadi ketidakharusan bagi mereka.
Dampaknya tidak terhenti pada pikiran yang terganggu atau sindiran dari orang tua. Di balik empat kata tersebut terdapat sejarah, struktur, dan dampak buruk yang sering tidak disadari. Salah satunya adalah apa yang para sosiolog sebut sebagai cognitive labor atau beban kognitif yaitu kerja pikiran yang tidak terlihat yaitu mengantisipasi, merencanakan, dan memikirkan apa yang belum beres, bahkan saat tubuh sedang beristirahat. Penelitian menemukan bahwa beban kognitif rumah tangga terbagi jauh lebih tidak merata dibanding beban fisiknya dan perempuan yang menanggung lebih banyak bagian kognitif ini melaporkan tingkat depresi, stres, dan burnout yang lebih tinggi. Inilah mengapa stigma soal kerapian bukan hanya soal estetika, melainkan soal siapa yang dibebani untuk selalu memikirkannya.
Sejak awal, tuntutan rapi dan bangun pagi tidak menjadi permasalahan, tetapi kata “cewek” yang melekat di depannya yang membuatnya menjadi masalah. Stereotipe yang sudah tertanam sejak kecil tersebut seharusnya mulai dihilangkan. Jika kamar perempuan harus tertata, maka kamar laki-laki juga, penetapan standar tersebut secara universal bukan hal yang berlebihan, melainkan positif dan mendasar.
Di balik kalimat-kalimat itu, ada budaya yang seharusnya mulai berubah dari cara memperlakukan anak-anak di rumah, dari sekecil mainan yang diberikan, hingga pekerjaan yang dianggap menjadi tanggung jawab siapa. Perubahan sekecil apa pun di ranah domestik, jika dilakukan secara konsisten bisa menjadi fondasi bagi kesetaraan yang lebih besar di kemudian hari.
Menghilangkan identitas gender pada kalimat sederhana tersebut tidaklah sulit bahkan dapat mengurangi kemungkinan dampak buruk di masa depan. Mungkin orang tua kita tidak menyadari hal ini karena mereka juga mewarisinya, tetapi kita dapat memutus rantai stigma tersebut dengan tidak meneruskannya, dengan menegaskan bahwa standar kerapian adalah standar manusia secara universal dan tidak seharusnya membebani satu pihak saja. Pada akhirnya, kerapian, kedisiplinan, dan tanggung jawab bukanlah milik satu gender melainkan nilai yang layak diajarkan pada siapa saja, tanpa embel-embel “gender” di depannya
Sekecil menghilangkan 1 kata saja dapat membuat perubahan jangka panjang, dapat mengubah stigma dan membuat dunia yang lebih adil untuk ditinggali.
“A messy room was never the problem. A double standard dressed up as a life lesson, that was.”