Lebih dari Sekadar Fiktif: Mereka yang Diam-Diam jadi Cerminan Identitas Perempuan
Saya tumbuh besar dengan menonton berbagai serial dengan berbagai genre, seperti kisah penggalangan kehidupan, drama, dan tentunya komedi. Bagi sebagian orang, menonton film atau serial hanya sekadar pelarian dari rutinitas sehari-hari. Namun, saya selalu merasa ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan dalam pengalaman menonton, apalagi jika di dalamnya terdapat tokoh yang punya kemiripan latar belakang, karakter, jalan cerita, atau bahkan pilihan hidup yang dialami sebagai perempuan muda.

Kerap kali, saya merasa terlalu sering merefleksikan apa yang saya tonton, dan menganalisisnya secara lebih mendalam. Saya pun yakin hal ini juga cukup sering dirasakan orang lain dan bagi saya, ini lah hal yang magis dari seni. Terkadang ada pesan mendalam yang muncul tak terduga, namun sifatnya tak lekang oleh waktu.
Dalam perjalanan menikmati berbagai serial, saya mulai merenungkan bahwa tanpa sadar, saya adalah mozaik dari segudang pengalaman dan perasaan (atau bisa jadi trauma) masa kecil yang tak semuanya sempat terungkapkan. Karenanya, serial atau film menjadi sangat personal karena terdapat identitas yang dicerminkan atau direpresentasikan oleh karakternya. Perasaan-perasaan yang kadang cenderung terasa dilebih-lebihkan dan sulit dideskripsikan ternyata bisa dinyatakan secara tepat dan mendalam melalui dialog dan cerita dalam seni.
Dari sekian banyak serial yang saya ikuti, pengalaman tiga perempuan hebat favorit saya, Amy Santiago, detektif Departemen Kepolisian New York (New York Police Department atau NYPD) di Brooklyn 99, Monica Geller, chef dan salah satu karakter di serial Friends, dan Blair Waldorf, sosialita dan fashion designer di Gossip Girl yang ingin coba saya ceritakan lebih jauh.
Uniknya, ketiga serial ini sama-sama mengambil latar di kota New York, Amerika Serikat. Brooklyn 99 mengangkat kisah para detektif dalam menyelesaikan berbagai kasus kriminal di New York yang dibalut dengan unsur komedi; Friends adalah salah satu sitkom terpopuler rilisan tahun 90-an yang mengisahkan 6 sahabat yang saling tumbuh bersama dalam menavigasi kehidupan pribadi, percintaan dan karir sebagai orang dewasa; dan Gossip Girl yang merupakan serial drama remaja elit dan populer yang setiap langkahnya selalu menjadi pusat atensi tiada henti.
Mereka punya profesi berbeda, berada pada fase kehidupan yang juga tidak persis sama, dan perjuangan yang dihadapi beragam. Namun, ketiganya sama-sama ambisius, perfeksionis, terorganisir, kompetitif, serta mudah stress jika hal berjalan di luar rencananya.
Kenalan kilat dengan ketiganya

Blair sangat ambisius, percaya diri, loyal, dan punya standar kesuksesan yang tinggi. Hal ini membuatnya kadang cenderung tidak peduli terhadap orang lain dan tidak segan mengambil langkah ekstrim untuk mendapatkan yang diinginkan. Salah satu impian terbesarnya bisa lolos ke Yale University di Connecticut, Amerika Serikat (salah satu universitas Ivy League yang merupakan kumpulan kampus terkenal dan sangat prestisius dengan peringkat dan reputasi tertinggi), namun ternyata gagal dan saat itu dunianya hampir terasa hancur.

Monica yang keibuan, punya keinginan besar untuk membangun keluarga, sempat mempertimbangkan ingin segera mencari donor sperma ‘hanya’ karena takut ia sudah dikejar ‘deadline’ atau tenggat waktu untuk menikah. Ironisnya, sebagai seseorang yang punya jiwa nurturing atau mengasuh, ternyata ia harus bisa menerima kenyataan bahwa dirinya tidak bisa mengandung dari rahimnya sendiri.

Amy bekerja ekstra untuk membuktikan dirinya kompeten sebagai detektif perempuan di tengah dominasi laki-laki dalam lingkup kepolisian. Hal ini juga berangkat dari latar belakangnya di mana Ia-lah perempuan satu-satunya di antara 7 saudara laki-lakinya. Dengan demikian, Amy punya target sangat jelas mengenai rencana hidupnya, termasuk menjadi kapten kepolisian New York termuda dalam sejarah.
Mereka yang menarasikan perasaan dan pengalaman terpendam
Blair, Monica, dan Amy punya keunikannya tersendiri dalam merepresentasikan pengalaman pribadi hingga menjadi sangat universal. Perasaan dan trauma yang selama ini terpendam ternyata bisa berubah jadi nyata saat dinarasikan atau dikisahkan oleh ketiganya di layar monitor.
Dari ketiganya, saya belajar bahwa menjadi perempuan ambisius tidak salah, asal jangan lupa diri dan merugikan orang-orang yang saya kasihi. Tidak semua ekspektasi sosial harus saya penuhi kalau itu di luar kemampuan atau keinginan saya. Sebesar apapun saya berusaha, akan ada orang yang saya buat kecewa, dan itu tidak mengapa. Saya tidak harus selalu menyenangkan orang lain bahkan hingga harus mengorbankan kebahagiaan dan kebebasan diri sendiri.
Tak hanya itu, ketiganya hidup dengan ambisi dan punya tendensi untuk perlu membuktikan kemampuan dirinya kepada orang lain, padahal battle atau perjuangan yang dihadapi adalah dengan dirinya sendiri.
Selalu dianggap kuat dan bisa mengatasi segala masalah sendirian, padahal tak jarang butuh dampingan orang lain terutama yang sangat berarti dalam hidupnya dan punya hati yang lembut. Terlihat suka mengontrol, padahal hanya ingin melakukan yang terbaik untuk semua yang disayanginya terutama keluarga dan sahabatnya. Semuanya sangat relevan dengan hidup saya dan sungguh puas rasanya saat semuanya tergambar dengan jelas dalam ketiga serial tersebut.
Peran Blair, Monica, dan Amy cukup signifikan dalam mempengaruhi serta membentuk karakter saya sebagai perempuan. Khususnya, mereka hadir sebagai teman atau saudari untuk belajar dan menaruh harapan menjadi lebih baik kedepannya.
Mereka yang mencerminkan susahnya jadi perempuan
Ketiga karakter ini juga menunjukkan bahwa ada banyak pengalaman dan perjuangan hidup yang tidak bisa sepenuhnya dipahami oleh laki-laki sebab hampir mustahil bagi mereka untuk merasakannya. Misalnya, suatu hari ada seseorang yang datang ke kantor polisi dan bertanya kepada Amy dan kekasihnya Jake Peralta (yang juga detektif), apakah ada polisi yang bertugas di waktu tersebut. Padahal, Amy jelas-jelas sedang memakai seragam polisi, bahkan sudah berpangkat tinggi, tapi dianggap hanya sebagai lelucon belaka.
Contoh lainnya yakni saat Monica memutuskan hubungan dengan Richard sebab Richard sudah berada di akhir umur 40-an dan tidak lagi menginginkan anak setelah perceraiannya, kontras dengan Monica yang sangat ingin mengandung bayi. Bahkan saat ia menikah dengan sahabatnya, Chandler, ia pun harus menelan pil pahit bahwa Ia tidak bisa mewujudkan cita-citanya untuk mengandung dari rahimnya sendiri dan akhirnya memilih untuk mewujudkan mimpinya untuk memiliki anak lewat adopsi.
Secara tidak langsung, pengalaman Amy dan Monica juga memberikan validasi atas segala struggle atau perjuangan perempuan dalam segala pengambilan keputusan dalam hal pendidikan, karir, kehidupan percintaan, pandangan tentang keluarga dan pertemanan, dan sederet hal lainnya. Terlebih, segala pemikiran, tindakan, dan perbuatan perempuan sering juga didasari oleh standar sosial yang lahir dari budaya patriarki. Tanpa sadar, perempuan juga dituntut untuk memenuhi standar tersebut yang mungkin saja lahir bukan dari keinginan yang sesungguhnya, namun tetap saja punya andil dalam pengambilan keputusan-keputusan hidupnya. Lagi-lagi, suara-suara berisik atau ketidaknyamanan akan hal tersebut yang seringnya hanya ada di pikiran saya ternyata mampu direpresentasikan oleh Amy dan Monica dan karenanya, saya merasa tidak sendirian.
Mereka tidak sempurna, namun kekurangan dan perjuangannya sangat dekat dan realistis
Uniknya, saya juga bisa secara kritis menyanggah berbagai pilihan hidup yang diambil ketiga karakter tersebut. Jadi, dengan kata lain, ketiganya juga mendorong saya untuk tetap bersikap objektif dalam setiap langkah dan keputusan yang dipilih tanpa menghakimi. Sebab, tiap keputusan perempuan lahir dari berbagai konsiderasi dan latar belakang yang terkadang terlalu kompleks untuk bisa dipahami oleh orang yang tidak betul – betul mengenalnya..
Saya tidak setuju saat Blair menghalalkan segala cara yang kadang terkesan licik untuk mencapai posisi penting di kelas sosialnya, seperti dengan perundungan. Meski demikian, saya bisa sedikit memahami bahwa Blair melakukannya di saat usianya masih belia, selayaknya kenakalan yang rentan terjadi di bangku SMA, walau tetap saja hal itu tidak dapat dibenarkan. Namun, pada akhirnya karakter Blair juga berkembang dari waktu ke waktu. Blair perlahan membaik dengan meninggalkan kebiasaan yang tidak lagi relevan dengan umurnya yang juga beranjak dewasa.
Hal ini juga yang saya refleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Saat masih muda, ada banyak hal yang mungkin saya lakukan tanpa tahu atau sadar apa maknanya, tapi waktu membuat saya setidaknya lebih bisa mengontrol ego dan mempertimbangkan apa saja hal patut dikatakan atau dilakukan untuk tidak menyakiti orang lain. Sebab, tidak semua hal perlu didebatkan, tidak semua argumen perlu dimenangkan, tidak semua hal perlu diberi kejelasan, namun semua keputusan dan tindakan perlu dipertanggungjawabkan.
Ketiga tokoh tersebut memang hanya sedekat layar monitor, namun perannya bagi saya jauh lebih daripada itu. Seperti layaknya mozaik, identitas saya ternyata bisa dicerminkan dari kepingan-kepingan kehidupan para tokoh tersebut beserta kompleksitasnya. Mereka tak sempurna, namun justru kekurangan dan kesulitannya sangat dekat dan realistis. Lebih dari itu, saya belajar banyak dari mereka untuk setidaknya menjadi sosok yang lebih baik dalam setiap fase hidup dari waktu ke waktu, walau sedikit saja.