Skip to main content

Sandiwara Semu: Tertipu dan Terpedaya

Jangan pernah lupakan kasus Aurelie Moeremans

The Awakening Conscience (1853) is an oil-on-canvas painting by the English artist William Holman Hunt
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Awakening_Conscience

Mungkin kamu pernah dengar tentang child grooming yang sempat menjadi perbincangan luas setelah terbitnya buku karya Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings pada Oktober 2025.

Sejak buku tersebut terbit, kesadaran masyarakat terhadap child grooming mulai meningkat. Banyak psikolog turut memberikan edukasi dan tanggapan mengenai fenomena ini. Namun, sebagaimana isu-isu yang ramai diperbincangkan di media, perhatian terhadap persoalan penting ini perlahan mulai memudar.

Padahal, child grooming masih kerap terjadi di lingkungan yang justru dianggap aman. Perempuan merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban, terutama mereka yang berusia di bawah 18 tahun dan masih berada pada fase remaja (adolescence). Kerentanan tersebut bahkan meningkat pada remaja perempuan yang memiliki gangguan kesehatan mental sehingga mereka lebih mudah menjadi sasaran manipulasi pelaku.  Saya melihat banyak dugaan kasus child grooming yang terjadi di lingkungan sekolah setelah menyaksikan berbagai video yang beredar di internet. Hal ini sangat memprihatinkan. Institusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi tumbuh kembang fisik dan mental anak justru, dalam sejumlah kasus, dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi.

“Bagaimana kalau mereka saling suka?”

“Bukankah cinta tidak memandang usia?”

“Bagaimana dengan pasangan yang memiliki perbedaan usia belasan tahun? Mereka bisa menikah dan hidup bahagia.”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap digunakan untuk membenarkan hubungan yang sesungguhnya tidak setara. Dalam konteks child grooming, tidak ada relasi yang benar-benar seimbang antara orang dewasa dan anak di bawah umur. Remaja yang belum berusia 18 tahun masih berada pada tahap perkembangan sehingga belum memiliki kematangan emosional, psikologis, maupun kemampuan mengambil keputusan sebagaimana orang dewasa.

Hubungan semacam ini bukan tentang cinta, melainkan tentang manipulasi, pengaruh, dan penyalahgunaan ketimpangan kuasa.

“Kamu berbeda dari anak-anak seusiamu.”

“Pikiranmu jauh lebih dewasa daripada teman-temanmu.”

Kalimat-kalimat tersebut merupakan bentuk manipulasi yang sering digunakan pelaku untuk membangun kedekatan dengan korbannya. Korban dibuat merasa istimewa, dipahami, dan memperoleh perhatian yang tidak diberikan kepada orang lain. Bagi seorang remaja yang sedang mencari jati diri dan penerimaan sosial, perlakuan seperti ini dapat terasa sangat berarti.

Di sinilah bahaya child grooming sering kali tidak disadari. Pelaku tidak selalu memulai dengan tindakan yang tampak mencurigakan. Sebaliknya, mereka membangun kepercayaan secara perlahan, memberikan perhatian berlebihan, menciptakan ketergantungan emosional, kemudian memanfaatkan hubungan tersebut demi kepentingan pribadi.

Child grooming tidak selalu diawali dengan pelecehan seksual. Kedekatan emosional yang tidak sehat, manipulasi psikologis, pemberian perhatian secara berlebihan, ataupun hubungan personal yang melampaui batas profesional antara orang dewasa dan anak dapat menjadi tahap awal yang patut diwaspadai. Dalam lingkungan pendidikan, misalnya, hubungan antara guru dan siswa harus senantiasa berada dalam koridor profesional karena terdapat perbedaan usia, pengalaman, serta posisi kuasa yang tidak seimbang.

Secara hukum, Indonesia memang belum memiliki ketentuan yang secara khusus mengatur child grooming. Namun, tindakan tersebut dapat dijerat melalui Pasal 76E Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang melarang setiap orang menggunakan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau bujukan terhadap anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenai pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama lima belas tahun serta denda paling banyak Rp5 miliar.

Pretty Little Liars ( American Series ) Hubungan antara tokoh perempuan bernama Aria dengan gurunya Ezra, menjadi salah satu contoh yang paling sering dikritik karena pada awal serial hubungan mereka digambarkan secara romantis meskipun terdapat ketimpangan usia dan posisi kuasa.
Source : https://www.yahoo.com/entertainment/rewinding-pretty-little-liars-looking-200758108.html

Di sisi lain, cukup memprihatinkan ketika sebagian film Barat mulai normalisasi relasi yang tidak setara, misalnya dengan menggambarkan hubungan romantis antara guru dan murid di bawah umur sebagai sesuatu yang wajar. 

Pertanyaannya, apakah Indonesia juga akan mengikuti cara pandang tersebut? Akankah kita ikut menganggapnya sebagai “cinta”, padahal relasi seperti itu justru berpotensi merampas masa depan remaja perempuan?

Jawabannya bergantung pada pilihan kita. Sebagai tenaga pendidik, orang tua, maupun orang dewasa yang berinteraksi dengan remaja, kita memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman. Dengarkan mereka, berikan ruang untuk bercerita, serta arahkan mereka dengan nilai-nilai yang sehat.

Sebab, cinta yang sejati tidak pernah memanfaatkan ketimpangan kuasa. Cinta yang sejati hadir untuk menjaga, menghormati, dan melindungi.